Selasa, 13 Januari 2009

Angan dan Keinginan Selalu Berbeda dengan Kenyataan

Seperti judul di atas bahwa "Angan dan Keinginan Selalu Berbeda dengan Kenyataan" itulah yang terjadi pada diriku, bukan menyesali hanya ingin bercerita bahwa Tuhan memang Maha Adil, Dia tak memberikan apa yang kita inginkan tetapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan.
Diposting sebelumnya yang menceritakan kegundahanku menunggu panggilan untuk berangkat ke Palembang, bergabung dengan biro Adv lokal Jogja yang baru dapat order di Palembang. dan akhirnya aku berangkat juga...hahaha...
Di sini aku belajar banyak, dan menyadari bahwa desain yang komunikatif itu memang susah-susah gampang (sebenarnya sulit juga), belum lagi bila proof design, desain harus punya beberapa farian. Memang desainnya terlihat simpel, tetapi perlu pengerjaan yang teliti mengikuti demografi target audience, ditambah lagi materi yang minim...
Ya walaupun diriku masih junior graphic designer, aku juga merasakan betapa "tidak tenang"nya bila dikejar-kejar deadline, belum lagi art director sekaligus bosnya berwajah sangar tanpa ekspresi senyum kepada anak buahnya...

Hahaha...terkadang aku tertawa dalam hati diantara kepenatan saat dikejar-kejar deadline...Berarti selama ini diriku hanya "asal desain" saja, hanya menggunakan idealismeku dan kepuasanku sendiri... "Ya inilah dunia, kepuasan sendiri itu nomor ke-sekian" kata Pak Edial Rusli...
Sebagai orang yang mencari nafkah dari orang lain, kita tidak bisa sesuka kita sendiri, kepentingan klien menjadi nomor #1, walaupun itu bertentangan dengan keinginan kita tetapi kita tidak bisa berbuat banyak...Fiiuuhhh & hhuuuh...


Tetapi diantara itu diriku banyak-banyak berterima kasih dan bersyukur bahwa Tuhan masih memperhatikan diriku, masih sayang aku, masih mau menunjukkan jalan padaku wlaupun terkadang aku lupa pada-Nya...
Diriku yang berkeinginan menjadi lay outer majalah dan mewanti-wanti tidang ingin bekerja di biro Adv tetapi kenyataannya... "senjata makan tuan" hahaha..... "Angan dan Keinginan Selalu Berbeda dengan Kenyataan"


Salam buat temen-temen ADVER'06 AKINDO...Semangat guys...jalan kita memang berbeda, tetapi rejeki tidak hilang dikejar...
Selamat menempuh Ujian Akhir Semester V...

Minggu, 28 Desember 2008

Minggu, 19 Oktober 2008

Rabu, 10 September 2008

self project EPIC band


cover CD




cover ALBUM





















Senin, 01 September 2008

ORDER FAILED

Lagi sial ato kenapa tapi koq yang namanya dapet oerdern "sablon-menyablon" mesti ORDER FAILED...Gagal bukan karena ga' dapet ordernya, cuma klo ga' slesainya telat, salah ukuran ato malah sablonnya jelek...
Y kaya kemaren aja...dapet order yang lumayan jumlahnya ( labanya bisa buat bayar SPP semester ini ) eee malah tombok...dari segi desain dan cetak mencetak hasilnya sangat memuaskan (halah)...tapi dari segi sablon-menyablon malah gagal total...Ya emang ga' dikerjain sendiri, tak lempar ketemen, cz Q jg sibuk proof desain sama urusin cetak-mencetaknya...
Gagal totalnya adalah...dari 113 sablon semuanya geser...ancur dech...
Ya langsung Q komplain tu orang...lha koq hasilnya kayak gini...Dia cuma bilang "Wah Q lg sibuk-e, pagi kuliah-malem latian teather"...lha piye kui...Yang namanya dah nrima order ya harus konsisten maprofesional dong...mana Q pikirin urusan pribadi dia...setauQ dia dah nrima order dan Q tinggal nrima jadinya....
Sial pokoknya...Ya mau ga mau klienQ harus nrima dan Q terpaksa kasih cash back hampir 30% dari biaya total...yang 10% biaya komplain yang 20% biaya tutup mulut biat ga banyak bacot wlaupun mreka masih ngebacot....




besaok lagi ga' dech buat nyablon-nyablon lagi...kapok...




SIAL LO MUZ !!!

Kamis, 31 Juli 2008

mini portfolio


Hari Tanpa TV



Tanggal 20 Juli 2008 lalu yang jatuh pada hari Minggu, ditetapkan sebagai hari tanpa televisi. Menurut Clara Kriswanto, Psi, konsultan dari Jagadnita Consulting, hari tanpa teve bisa sangat bermanfaat, terutama bagi anak-anak yang tinggal di kota, yang pilihan rekreasinya pada hari libur hanya menonton teve. Dengan demikian, menurut Clara, anak-anak bisa menyadari bahwa ada kegiatan lain selain menonton teve.
"Sebetulnya, menonton teve tidak jelek, asal selektif memilih acara dan harus tahu waktu yang tepat. Berdasarkan penelitian, anak-anak memang banyak menghabiskan waktu di depan teve. Kalau menonton teve jadi satu-satunya kegiatan anak, kehidupannya akan menjadi tidak kaya, dan dia lama-kelamaan merasa nyaman dengan dunianya sendiri, tidak peduli orang atau hal lain," ujar Clara saat dihubungi, Minggu (20/7).
Namun, imbuh psikolog ini, sukses atau tidaknya gerakan mengurangi jam menonton teve bagi anak ini harus melibatkan campur tangan orangtua. Artinya, orangtua bukan hanya boleh melarang anak menonton teve, apa pun alasannya, melainkan juga memberikan solusi. Yaitu dengan memberikan kegiatan lain, bukan mengganti tontonan dengan bermain game seperti Playstation atau komputer.
"Banyak yang bisa dilakukan, misalnya kegiatan di luar ruang yang melibatkan aktivitas fisik dan mengasah kemampuan motoriknya. Antara lain berolahraga, sehingga mengajari anak memiliki daya juang dan kompetisi. Bisa juga mengajak mereka ke toko buku, minta mereka memilih buku yang akan mereka baca, lalu minta mereka menceritakannya di depan anggota keluarga yang lain. Sehingga, keakraban keluarga makin terjalin," tuturnya sambil menambahkan, kegiatan ini juga melatih keberanian dan kemampuan verbal.
Bermain permainan monopoli pun bisa dilakukan, karena membuat anak melatih ketrampilan finansialnya. Lalu, saat anak-anak menonton teve, Clara menyarankan agar orangtua mendampingi mereka. Makin dini usia anak, makin perlu didampingi. Sehingga, ketika ada adegan yang tidak seharusnya ia lihat, orangtua bisa segera membahasnya bersama, agar anak tidak salah menangkap pesan.
"Kalau tidak, anak bisa beranggapan bahwa memukul itu boleh, misalnya. Sebaiknya, menonton teve bagi anak hanya dijadikan selingan, bukan kegiatan utama. Apalagi, ada program-program teve yang tidak sepantasnya ditonton anak. Saat pendampingan merupakan waktu yang tepat untuk memasukkan pesan moral dan nilai yang positif pada anak," papar Clara sambil menegaskan, itu sebabnya tidak disarankan memiliki teve di dalam kamar.
Membatasi anak menonton teve juga perlu dilakukan, misalnya 1-2 jam dalam sehari. Minta anak menonton acara favoritnya saja, yang tentu saja sesuai untuknya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengatur waktu (time management) dan menghargai orang lain. D . A ..